Selasa, 12 November 2013

Pesona Panorama Pusuk Di Antara Mataram, Lombok Barat dan Lombok Utara











Lombok... tak akan ada habisnya berbicara tentang keindahan pulau yang satu ini. Saat saya mendapatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau ini pun, hasrat untuk menjamah setiap sudut lombok yang indah tak dapat lagi terbendung. Tak ingin rasanya melewatkan satu saja tempat menarik yang ada di sana.

Dan akhirnyaaa... berhasil! I think God has answered my prayers... Alhamdulillah... satu per satu tempat menarik di Lombok—yang beberapa di antaranya kerap kali saya saksikan dalam tayangan-tayangan acara traveling di televisi—dapat saya nikmati langsung keindahannya dengan mata kepala saya sendiri.  

Salah satu tempat yang keindahan panoramanya masih membekas jelas di dalam ingatan saya adalah Hutan Pusuk yang terletak di sepanjang jalan perbatasan Kota Mataram, Lombok Barat dan Lombok Utara. Pusuk—yang dalam bahasa Sasak berarti ‘Puncak’—adalah sebuah wilayah dataran tinggi yang berada di kaki Gunung Rinjani yang menyuguhkan panorama mempesona dengan hawa sejuk dalam balutan hutan tropis dengan beragam vegetasi pepohonan khas Lombok seperti kumbi, garu, mahoni, sonokeling, terep dan piling.

Saat berada di Pusuk, saya dihadapkan pada pemandangan yang sangat menakjubkan. Dari balik pepohonan di kejauhan saya dapat menyaksikan birunya pantai 3 Gili—Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Belum lagi, suasana Hutan Pusuk yang hening diselingi kicauan-kicauan burung khas Lombok. Jalan di sepanjang Hutan ini pun tak banyak dilalui pejalan kaki apalagi kendaraan. Alhasil selama hampir setengah jam saya dan teman-teman berada di Pusuk, bukan hanya mata kami yang menjadi segar tapi tubuh, hati, dan pikiran rasanya juga menjadi rileks.

Tak hanya sampai di situ, Hutan Pusuk menjadi menarik karena menjadi lokasi hunian ratusan kera ekor panjang yang jinak. Biasanya kera-kera tersebut akan keluar dari hutan dan berkeliaran di tepi jalan secara bergerombol 20 sampai 30 ekor di sejumlah titik. Momen inilah yang kerap kali dimanfaatkan oleh para pengunjung atau wisatawan yang datang ke tempat ini untuk berinteraksi dengan kera-kera sekaligus mengambil gambar. Para wisatawan yang datang ke Pusuk biasanya sengaja membekali diri mereka dengan “oleh-oleh” seperti kacang, pisang, roti, atau bahkan jagung rebus, yang nantinya akan digunakan untuk menarik perhatian kera-kera tersebut. Uniknya, kera-kera yang berkeliaran di tepi jalan pun terlihat sudah mengerti dan terbiasa dengan hal itu. Jika ada pengunjung yang datang atau menepikan kendaraannya, mereka akan berlomba-lomba menghampiri si pengunjung dan menyergap ke tangan-tangan pengunjung yang memberikan makanan.  

Saya dan teman-teman beserta beberapa turis asing yang kami temui di sana pun sempat merasakan lucunya tingkah polah kera-kera tersebut saat bercengkerama bersama kami. Inilah salah satu momen paling seru di antara banyak momen seru lainnya yang saya rasakan selama bertualang menyusuri keeksotisan alam Lombok. Apa yang saya gambarkan melalui tulisan ini pun sebenarnya belum mampu merepresentasikan yang sesungguhnya. It’s too beautiful to be described with words! Indescribable!

Jadi saran saya, Anda harus datang dan menyaksikan sendiri keindahan Lombok, termasuk Hutan Pusuk-nya. Satu pesan saya, jika Anda datang ke Hutan Pusuk dan ingin berinteraksi dengan kera-kera di sana, janganlah memandang muka mereka saat memberi makan, atau kera-kera tersebut akan menunjukkan taringnya pertanda marah kepada Anda. Hehe...

Senin, 07 Oktober 2013

One Dollar, One Ice Cream




Singapura... Berkunjung ke negara ini tak lengkap rasanya jika tidak mampir ke Orchard Road, yang notabene merupakan salah satu kawasan pusat perbelanjaan paling populer di Singapura. Di Orchard Road, Anda akan menemukan jajaran pertokoan yang menjual berbagai jenis barang—dari yang berkualitas kaki lima, hingga barang-barang branded. Tak hanya itu, Orchard Rd juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke “Negeri Singa”, karena menawarkan beragam kuliner unik dan enak yang harganya terjangkau. Salah satu panganan kaki lima yang banyak digemari wisatawan dan telah menjadi salah satu ikon pelengkap Orchard Rd adalah ice cream uncle.

Ice Cream Uncle adalah salah satu jajanan pinggir jalan yang menjadi favorit para wisatawan untuk teman duduk-duduk bersantai sejenak di sepanjang Orchard Rd. Yang menjadikan es krim ini kelihatan lebih istimewa dari es krim kebanyakan adalah namanya yang unik, ice cream uncle. Disebut ice cream uncle karena si penjual es krim yang menjajakan dagangannya menggunakan sepeda motor ini umumnya adalah pria-pria berumur, sehingga para pembeli memanggilnya dengan sebutan uncle.

Selain banyak dijumpai di sepanjang Orchard Rd, ice cream uncle bisa juga ditemui di kawasan Marina dan Bugis. Hal lain yang menarik dari es krim ini adalah rasanya yang beragam, seperti durian, mango, mint, raspberyy, chocochips, dan masih banyak lagi. Ada kalanya Anda harus sedikit bersabar, karena terkadang Anda harus melalui antrean yang cukup panjang saat membeli ice cream uncle akibat peminatnya yang banyak. Namun di saat Anda mengantre, di saat itu pula Anda akan disuguhkan pemandangan menarik—si uncle yang memotong dan mengemas es krim-es krimnya dengan sangat cepat dan cekatan.

Ice cream uncle dapat disajikan menggunakan cup, roti, ataupun wafer—sesuai permintaan pembeli. Soal harga, jangan khawatir! Untuk mendapatkan satu porsi ice cream uncle, Anda tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. One dollar, one ice cream... hanya butuh 1 dollar Singapore atau sekitar Rp 7.000,00 untuk mendapatkan satu ice cream uncle menggunakan wafer, dan 2 dollar Singapore untuk ice cream uncle yang menggunakan cup dan roti.

Bagi Anda yang berencana traveling ke Singapura, jangan lupa mencoba! :)


Kamis, 26 September 2013

Susuri Jakarta, Tak Sengaja Jumpa Abah...


Setelah beralih fungsi menjadi kawasan jajanan pinggir jalan pada setiap Minggu pagi (car-free day), pemandangan tak sedap kerap kali muncul di sepanjang jalan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Sampah sisa makanan dan minuman berserakan mengotori beberapa sudut jalan.

Melihat hal tersebut, Abah Ilham-lah orang pertama yang tak bisa tinggal diam. Dengan sigap, lelaki 58 tahun itu pun langsung mengambil peralatan andalannya, sebuah sapu lidi dan pengki. Dengan sapu lidi dan pengkinya itu, setiap sudut jalan Bundaran HI disapunya. Satu per satu sampah dipungutnya hingga tak bersisa.

Begitulah pekerjaan Abah Ilham setiap hari. Yah, Abah Ilham adalah seorang penyapu jalan yang beroperasi di seputar kawasan Bundaran HI, Jakarta. Sudah 15 tahun lelaki paruh baya itu melakoni pekerjaan tersebut. "Abis, enggak ada kerjaan lagi, Abah cuma bisa kerjain ini," kata Abah dengan polos.

Dahulu Abah bekerja sebagai petugas cleaning service di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Namun, kata Abah, karena perusahaannya bangkrut, beberapa karyawannya, termasuk Abah, akhirnya dikenai PHK. Tak pasrah begitu saja dengan keadaan, Abah mencari kerja ke sana kemari hingga akhirnya mendapat pekerjaan sebagai penyapu jalan.

Ditanya mengenai profesinya itu, Abah mengaku tak punya pilihan lain. "Yah, capeklah Neng. Tapi, abis mau gimana lagi, Abah kan harus ngasih makan keluarga. Mau enggak mau, kuat enggak kuat, harus dikerjainlah biar dapet duit," ujarnya.

Dengan penghasilannya yang terbilang minim dari profesinya ini, Abah harus menghidupi istri dan keempat anaknya yang masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah. "Anak Abah ada empat, yang paling gede udah STM, sebentar lagi selesai. Yang lain masih SMP, yang kecil SD kelas 6," kata Abah yang pemalu itu.

Abah mengaku, meskipun hidupnya susah, ia tetap bersyukur karena anak-anaknya masih dapat mengenyam pendidikan sekolah dengan hasil jerih payahnya sendiri sebagai seorang tukang sapu jalan. Ke depan, Abah berharap, dirinya terus diberi kesehatan dan kekuatan oleh Yang Kuasa agar bisa tetap menjalani pekerjaannya sebagai tukang sapu jalan. "Abah selalu berdoa supaya sehat dan kuat terus kerja begini. Abah kan udah makin tua. Enggak kebayang kalo Abah enggak kerja, kasihan nanti istri dan anak Abah mau makan apa dan sekolahnya gimana," ujar lelaki asli Sunda itu. 

Sebuah harapan yang tak muluk, namun berarti begitu besar bagi kehidupan Abah dan keluarganya. 

Pertemuan yang tak disengaja dengan Abah Ilham memberikan satu pelajaran penting bagi saya, bahwa nilai diri seseorang tak melulu ditentukan oleh kekayaan, kedudukan, kecerdasan, ataupun kesempurnaan fisik, namun bergantung pada seberapa bernilainya ia bagi orang lain. Abah Ilham telah membuktikannya kepada saya. Tak kaya, tak ada jabatan, tak cerdas, tak tampan... namun bisa jadi ia lebih bernilai dan bersahaja daripada saya atau Anda karena perjuangan dan pengorbanannya yang besar bagi keluarga. Mari buka mata & lebih peka!      



Minggu, 22 September 2013

Gorgeously Lombok...

Gambar ini diambil saat kami melalui sebuah terowongan air yang berlokasi di kawasan Tiu Kelep, kaki Gunung Rinjani, Pulau Lombok, NTB (Sabtu, 24 Agustus 2013). 
 
Unbelievable! Finally we were able to pass through this tunnel! It's very dark, narrow, potholed roads, overflowing streams of water which is heavy and cold from mountain springs. Look at our faces! Trying to keep a smile even though very scared. One of the most extreme we've ever tried!

This experience reminded me of a quote:
“Traveling is a brutality. It forces you to trust strangers and to lose sight of all that familiar comfort of home and friends. You are constantly off balance. Nothing is yours except the essential things – air, sleep, dreams, the sea, the sky – all things tending towards the eternal or what we imagine of it.” – Cesare Pavese  

I strongly agree with that quote. I have proved that traveling is indeed a brutality. A brutality that brought you to freedom, true courage, complete happiness, and a more vibrant life.